BAB 15 E. MACAM-MACAM UPAYA,TEKNIK, ATAU CARA PENGENDALIAN SOSIAL

BAB 15 E
MACAM-MACAM UPAYA,TEKNIK, ATAU CARA PENGENDALIAN SOSIAL 

E.  Macam-macam Upaya, Teknik, atau Cara Pengendalian Sosial
 1.  Pengendalian sosial berdasarkan waktu pelaksanaannya
a.   Cara kompulsi (compultion)
1)   yaitu tindakan yang dilakukan dengan menciptakan situasi yang dapat mengubah sikap atau perilaku negatif.
2)   contoh : jika ada siswa yang enggan memakai dasi, maka setiap menemui siswa yang  tidak  berdasi ditegur dan dijelaskan pentingnya berdasi.
b.   Tindakan preventif :
1)   yaitu tindakan yang dilakukan pihak berwajib sebelum penyimpangan sosial terjadi agar suatu tindakan pelanggaran dapat diredam atau dicegah yang dilakukan dengan cara bimbingan, pengarahan, dan ajakan.
2)   contoh : kegiatan penyuluhan oleh dinas-dinas terkait tentang bahaya yang ditimbulkan akibat pemakaian narkoba.
c.   Tindakan represif :
1)   yaitu tindakan aktif yang dilakukan pihak berwajib saat penyimpangan sosial terjadi agar penyimpangan yang sedang terjadi dapat dihentikan.
2)   contoh : guru memberi hukuman kepada siswa yang terlambat dan tidak tertib di sekolah, dengan tujuan agar tindakan penyimpangan siswa tidak berulang lagi.
d.   Tindakan kuratif :
1)   yaitu tindakan yang diambil setelah terjadi tindak penyimpangan sosial dengan tujuan memberi penyadaran kepada para pelaku penyimpangan agar menyadari kesalahannya dan mampu memperbaiki kehidupannya, sehingga tidak mengulangi lagi kesalahannya.
2)   contoh : memasukkan para pencandu narkoba ke tempat rehabilitasi untuk mendapatkan pembinaan agar para pelaku tidak mengulangi perbuatannya lagi.
 2.  Pengendalian sosial berdasarkan sifatnya
a.   Pengendalian internal :
1)   dilakukan oleh penguasa atau pemerintah sebagai pemegang kekuasaan (the rulling class) untuk menjalankan roda pemerintahannya melalui strategi-strategi politik.
2)   strategi-strategi politik dapat berupa aturan perundang-undangan ataupun program-program sosial lainnya.
b.   Pengendalian eksternal :
1)   dilakukan oleh rakyat kepada para penguasa, karena dirasa terdapat penyimpangan-penyimpangan tertentu yang dilakukan kalangan penguasa.
2)   dapat dilakukan melalui aksi-aksi demonstrasi atau unjuk rasa, melalui pengawasan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), atau wakil-wakil rakyat di DPR dan DPRD.
 3.  Pengendalian sosial berdasarkan perlakuannya
a.   Tindakan persuasif :
1)   yaitu tindakan pencegahan dengan cara pendekatan secara damai tanpa paksaan.
2)   contoh : ajakan atau penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang, guru BK menasehati dan menghimbau siswa tidak merokok.
b.   Tindakan koersif :
1)   yaitu tindakan pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara paksaan yang  diwujudkan dengan memberi sanksi atau hukuman terhadap  pelaku pelanggaran sesuai kadar penyimpangannya.
2)   contoh : penertiban PKL secara paksa dilakukan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
c.   Pengendalian sosial gabungan antara preventif dan represif
contoh :
a)   pelaksanaan operasi tertib lalu lintas yang dilakukan kepolisian merupakan bentuk pengendalian sosial bersifat preventif sekaligus represif.
b)  operasi tertib yang dilakukan pihak berwajib menjadikan masyarakat waspada, sehingga sebelum mengendarai kendaraan akan melengkapi surat-surat dan membekali diri dengan pengetahuan tentang rambu-rambu lalu lintas, agar tidak terkena sanksi. Adapun bagi pelaku pelanggaran saat operasi tertib dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku, sehingga sifatnya represif.
 4.  Pengendalian Sosial berdasarkan pelakunya
a.   pengendalian pribadi :
yaitu pengaruh dari orang atau tokoh tertentu (panutan) yang bersifat baik maupun buruk.
b.   pengendalian institusional :
1)   yaitu pengaruh yang ditimbulkan dari institusi atau lembaga.
2)   pola perilaku lembaga atau institusi mengawasi para anggota lembaga, mengawasi dan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat disekitar lembaga tersebut berada.
3)   contoh  :  kehidupan para santri di pondok pesantren akan mengikuti aturan dalam hal pakaian, tutur sapa, sikap, pola pikir, pola tidur, dan sebagainya, maka pengawasan dan pengaruh pondok pesantren dapat terjadi pada para santrinya dan masyarakat disekitar pondok pesantren.
b.   pengendalian resmi
1)   yaitu pengendalian atau pengawasan sosial oleh lembaga resmi negara sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan sanksi yang jelas dan mengikat.
2)   pengendalian resmi dilakukan oleh aparat negara, seperti kepolisian, Satpol PP, kejaksaan, ataupun kehakiman untuk mengawasi ketaatan warga masyarakat terhadap hukum yang telah ditetapkan.
c.   Pengendalian tidak resmi :
1)   yaitu pengendalian atau pengawasan sosial yang dilakukan tanpa rumusan aturan yang jelas atau tanpa sanksi hukum yang tegas.
2)   pengendalian tidak resmi memiliki efektivitas dalam mengawasi atau mengendalikan perilaku masyarakat, karena sanksi yang diberikan kepada pelaku penyimpangan berupa sanksi moral dari masyarakat lain, misalnya dikucilkan atau diusir dari lingkungannya.
3)   pengendalian tidak resmi dilakukan oleh tokoh masyarakat, tokoh adat, ataupun tokoh agama yang memiliki kharisma dan dipandang sebagai panutan masyarakat.
 5.  Pengendalian sosial berdasarkan tujuannya
a.   Tujuan kreatif atau konstruktif
1)   adalah suatu bentuk pengendalian sosial bertujuan kreatif atau konstruktif jika diarahkan pada perubahan sosial yang dianggap bermanfaat.
2)   penerapan wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah merupakan salah satu contoh bentuk pengendalian sosial yang bertujuan kreatif atau konstruktif.
b.   Tujuan regulatif
1)   adalah pengendalian sosial bertujuan regulatif apabila pengendalian sosial tersebut dilandaskan pada kebiasaan atau adat istiadat.
2)   contoh : pemerintah kabupaten mencanangkan wajib jam belajar dari jam 18.00 - 21.00 bagi setiap penduduk, tujuannya mengarahkan agar warga memiliki kebiasaan yang baik berupa dapat memanfaatkan waktu luang sebelum tidur untuk belajar.
c.   Tujuan eksploratif
1)   adalah pengendalian sosial bertujuan eksploratif jika dimotivasikan oleh kepentingan diri secara langsung maupun tidak langsung.
2)   penerapan tata tertib di sekolah merupakan salah satu contoh pengendalian sosial yang bertujuan eksploratif, karena tata tertib disusun dengan tujuan meningkatkan motivasi siswa dalam mempersiapkan diri sebagai generasi muda yang berkualitas dengan dilandasi penguasan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan IMTAQ (Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa).
6.  Pengendalian sosial berdasarkan jumlah yang terlihat
a.   Pengawasan dari individu terhadap individu lainnya.
contoh : seorang ayah menasihati anaknya, seorang teman menegur temannya yang telah berbuat salah, dan lain-lain.
b.   Pengawasan dari individu terhadap kelompok.
contoh :  seorang pelatih sepak bola mengarahkan tim sepak bolanya, seorang guru menjelaskan materi pada murid-muridnya, dan lain-lain.
c.   Pengawasan dari kelompok terhadap kelompok.
contoh : sekelompok mahasiswa KKN (kuliah kerja nyata) sedang memberikan penyuluhan pada masyarakat.
d.   Pengawasan dari kelompok terhadap individu.
contoh :  warga masyarakat mengucilkan seorang warganya yang melanggar norma.
  
-----oOo-----

Tidak ada komentar: